-->

Misuh-misuhan



Katanya Jogja itu istimewa.


Begitu kata slogan, begitu pula kata mereka yang datang dan pergi.

Tapi bagi kami yang hidup di sini setiap hari—yang menelan panas, debu, dan hiruk-pikuknya—apa gelar itu masih pantas?


Setiap pagi, jalanan berubah menjadi sungai manusia yang mengalir tanpa jeda.


Klakson saling memburu, seperti doa-doa gelisah yang lupa kepada siapa harus berpulang.


Asap knalpot, teriakan pengendara, dan aspal yang memuai oleh matahari:
inilah rutinitas yang entah sejak kapan dipaksa kami sebut sebagai “biasa”.

Suatu kali, aku bertanya pada seorang bapak tukang sampah di dekat Malioboro:


“Masih betah, Pak, kerja di sini?”


Beliau hanya tersenyum—senyum yang lebih mirip luka—dan menjawab:
“Betah? Betah kalau kota ini bisa sedikit bernapas.


Tapi kini Jogja kayak ember bocor—ditambal berapa kali pun, tetap saja yang keluar lebih banyak dari yang diselamatkan.”


Kata-kata itu menampar.
Jogja yang dulu teduh kini terdengar seperti panggung riuh yang lupa mematikan pengeras suara.


Gedung tumbuh seperti jamur setelah hujan,
sementara pepohonan tumbang satu per satu tanpa sempat mengadu.


Wisatawan datang membawa kamera dan harapan,
namun pergi meninggalkan jejak yang tak ikut mereka bawa:
sampah, bising, dan sesak yang kian tebal.


Seorang pengamen di perempatan Tugu pernah berkata padaku sambil menepuk gitar reyotnya:
“Jogja itu bukan lagi tempat mencari tenang, Mas…
tapi tempat orang mencari pengakuan.”
Kalimat itu pahit—lebih pahit dari kopi dingin yang kupesan pagi-pagi.


Tapi sulit untuk menyangkalnya.
Kota ini seperti labirin ego:
pendatang mencari ruang untuk bermimpi,
sementara warga lokal perlahan kehilangan ruang untuk bernapas.

Jogja masih punya senja, benar.
Namun senja itu kini terperangkap di balik papan reklame,
tertabrak lampu-lampu mobil yang berebut pulang.


Kadang aku bertanya pada diriku sendiri:
apakah ini masih kota pelajar?
Atau kota yang sedang belajar menoleransi sesaknya sendiri?
Namun… di tengah keributan itu, ada sesuatu yang tetap hidup.


Harapan kecil yang tumbuh diam-diam di sudut kota:
dari bapak yang memungut sampah tanpa mengeluh,
ibu-ibu yang menanam pohon di pinggir jalan,
hingga senyum pasrah seorang pengendara saat macet sudah tak masuk akal lagi.


Mungkin mereka—bukan slogan, bukan baliho—
yang masih percaya bahwa Jogja bisa pulih.


Asal kita berhenti memperlakukannya sebagai kota kenangan
dan mulai menjaganya sebagai kota kehidupan.

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Misuh-misuhan"

Post a Comment

iklan