-->

Hilang


Sudah setahun kamu hilang.
Tapi rasa kopi yang selalu kamu pesan di kafe dekat rumahmu masih melekat di lidahku.

Kamu dengan sepatu nyentrik yang kamu lukis sendiri—dan aku, yang selalu mencoba membuatmu tertawa, malah kamu balas dengan cerita tentang sepatu itu.

“Kamu lihat nggak sepatuku? Aku lukis sendiri loh. Ini gambar apa menurutmu?”

Aku menatapnya lama, dan menjawab dengan jujur:
“Kayak tai.”

“Ngga dong, Roy,” katamu sambil manyun. “Ini bunga.”

Aku memperhatikan lagi lalu mengangguk sok bijak.
“Iya, bunga. Di atasnya ada gumpalan tai.”

“Kamu tuh kenapa sih sama tai?” kau mengeluh.

“Akhir-akhir ini hidupku penuh warna,” jawabku. “Warna tai.”

“Hah?!”

“Ya gitu… seolah TAI IS MY LIFE.”

Kau menatapku sambil menghela napas.
“Aku kan sudah bilang, kalau kamu ada masalah cerita aja. Jangan sungkan.”

Seandainya waktu bisa diulang.
Seandainya aku tahu setelah itu aku tak akan pernah lagi bisa curhat ke kamu.

Sudah setahun kamu hilang.
Dan yang tersisa hanya penyesalan konyol: kenapa dulu aku tidak cerita masalahku—bahkan yang berbau tai itu—kepada kamu.
Mungkin kamu akan tertawa mendengar ceritaku tentang “karya seni” di dinding toilet, tentang kloset mampet yang membuat hidupku ikut mampet.

Mungkin kamu akan bilang aku lebay.
Mungkin kamu akan bilang aku butuh liburan.

Tapi aku tetap Roy:
Roy yang mukanya kusam seperti kotoran lalat sejak kamu pergi.
Roy yang namanya mirip teriakan fans Iwan Fals—“Oy!”.
Roy yang kesal setiap kali menemukan tai mengambang di kloset kafe.

Sudah setahun kamu hilang.
Aku masih penasaran bagaimana kamu bisa lenyap begitu saja.
Aku masih melakukan rutinitas kita: nongkrong tiap malam minggu di kafe dekat rumahmu.

Dan mas barista selalu bertanya, seolah-olah meng-aduk-aduk luka yang belum kering:
“Mas… sendirian lagi? Mbaknya mana?”
Aku ingin menjawab, “Mbaknya hilang.”
Tapi suara itu selalu kutelan.

Sudah setahun kamu hilang.
Aku masih minum langsung dari gelas coco banana tanpa sedotan—hal kecil yang selalu kamu protes.
“Itu ada sedotan. Kok minumnya langsung?”
“Biar diperhatiin,” jawabku.
“Masih kurang?”
“Selalu kurang.”
Kamu tertawa geli saat itu.
Dan sampai hari ini, tawa itu masih menempel seperti stiker yang sulit dilepas.

Sudah setahun kamu hilang.
Aku tetap menunggumu di meja favorit kita, dekat tanaman bambu.
Aku menunggu sampai mokacinoku tinggal setengah.
Sampai rokok jarumku habis dua bungkus.
Sampai hujan turun tiga jam tanpa kompromi.

Seandainya kamu ada, tiga jam itu tak akan terasa seperti neraka yang lembab.
Kamu… selalu bisa mengubah bau tai dalam cerita hidupku menjadi sesuatu yang lucu.

Sudah setahun kamu hilang.
Aku masih mengingat bagaimana kamu tiba-tiba bertanya:
“Roy, rasa bambu enak nggak?”
Aku bengong.
Dan sebelum sempat melarang, kamu sudah mematahkan batang bambu kecil di sebelahmu lalu menyodorkannya.
“Roy, cobain deh.”
“Jangan dong, Amira. Aku bukan panda.”
“Kalo kamu nggak mau, aku ngambek.”
Aku tentu tak ingin kamu ngambek.
Jadi kubilang saja, “Weh, ternyata enak. Kamu harus cobain.”
Dan seperti biasa, kamu percaya.
“Kok enak beneran ya, Roy… bambunya manis.”

Sejak itu kamu berhenti pesan cheese roll.
Bambu kecil di kafe itu jadi camilanmu tiap malam minggu.

Sampai sekarang mas barista masih bingung kenapa stok bambu mereka cepat habis.

Sudah setahun kamu hilang.
Dan tiba-tiba Instagrammu ramai cerita.
Akun yang selalu kuberi pesan, selalu tanpa balasan.
Kini penuh gambar… penuh tawa… dengan dia.
Dia yang tak pernah kamu ceritakan kepadaku.
Dia yang kini jadi lakon di hidupmu.
Dan aku?
Aku cuma penonton yang tak diajak baca naskah.
Eh—kok jadi sedih?
Padahal bukan begitu akhirnya.

Sudah setahun kukira kamu hilang.
Ternyata kamu cuma pindah cerita.
Tokohnya bukan aku lagi—tapi dia.
Dia yang entah siapa namanya…
yang kutahu cuma satu: dia bukan tai.
Ya namanya hidup.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Hilang"

Post a Comment

iklan