-->

Sapro terlalu mencinta jadi sangat membenci

 

Foto hanya pengasam :)


Bisakah kita kembali ke masa lalu?


Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala Sapro, seperti jarum piringan hitam yang tak mau naik dari alurnya.
Mungkin memang menyenangkan hidup di masa ketika Elvis Presley mengguncang dunia dengan pinggulnya,
atau ketika Frank Sinatra mem-jazz-kan kehidupan dengan suara lembut yang bisa menenangkan badai,
bahkan saat Queen mengajak seluruh bumi untuk nge-rock bersama.
Yeaaah.
Sebuah masa ketika musik terasa seperti agama, dan dunia masih punya warna yang lebih sederhana.


Sapro dulu adalah anak modern.
Ia memuja teknologi, memuja kecepatan, memuja masa depan.
Tapi semakin dalam ia menyelam ke dunia digital, semakin keruh airnya.
Ada pola yang tidak lagi jelas, sesuatu yang tidak utuh—sebuah modernisasi yang justru terasa merusak peradaban dan kemanusiaan yang ia yakini.


Dan kini dunia makin gila.
Zuckerberg dengan Metaverse-nya ingin mengubah realitas menjadi piksel.
Orang-orang menghabiskan miliaran rupiah demi sebuah gambar tak jelas yang dinamai NFT.
Semuanya digital, semuanya kasatmata namun tidak menyentuh apa-apa.
Semua bergerak cepat—tapi terasa hampa.

Lebih sedikit percakapan, lebih sedikit tindakan.
Tolong!
Semua kejengkelan ini tidak memuaskanku.
Sapro memutar lirik itu dalam kepalanya,
lirik yang terdengar seperti peringatan sekaligus sindiran untuk zaman yang terlalu bising namun miskin makna.

Lebih sedikit gigitan dan lebih sedikit menggonggong.
Lebih sedikit pertarungan dan lebih sedikit percikan.
Tutup mulutmu dan buka hatimu, sayang…
Suara itu seolah menariknya keluar dari kebingungan,
menyuruhnya berhenti berbicara dan mulai merasakan.

Sayang, tutup matamu dan dengarkan musiknya.
Melayang bersama angin musim panas.
Ini malam yang asyik, dan aku bisa menunjukkan cara menggunakannya…
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, lirik itu seperti lorong waktu kecil.
Lorong yang menuntun Sapro ke masa ketika semuanya lebih nyata,
lebih analog, lebih manusiawi.

Sapro terhenyak.
Ia mendadak ingin kabur dari semuanya—dari algoritma, dari layar, dari artificial intelligence yang mengatur hidup manusia.
Ia ingin kembali ke masa lalu,
menjelajahi dunia dengan motor Chopper Classic kesayangannya,
angin menghantam wajah, dan The Beatles mengiringi setiap tikungan jalan.
Keinginan itu begitu kuat hingga ia nekat mengambil langkah gila:
menciptakan teknologi penjelajah waktu,
mirip seperti alat Doraemon yang ia tonton enam bulan lalu di bioskop.
Sebuah pintu masa lalu, sebuah mesin pelarian, sebuah upaya untuk menemukan dirinya yang hilang.

Bisakah Sapro menciptakan teknologi itu?
Mungkin tidak.
Mungkin ya.
Atau mungkin jawabannya bukan pada mesin waktu,
melainkan pada keberaniannya memutus dunia yang membisingkannya.
Karena kadang, untuk kembali ke masa lalu,
kita tidak perlu mesin apa pun—
cukup keberanian untuk berhenti di masa kini.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sapro terlalu mencinta jadi sangat membenci"

Post a Comment

iklan